Capek nggak sih setiap Lebaran bioskop kita dijajah film horor yang bikin sport jantung atau drama keluarga yang maksa kita nangis bombay? Kalau kamu butuh asupan kebahagiaan murni tanpa bumbu “jumpscare” atau konflik berat, “Na Willa” adalah jawabannya. Siapkan diri buat pulang ke masa kecil yang riang gembira!
Halo, para pemburu sinema! Pernah nggak kalian merasa kalau menjadi dewasa itu melelahkan? Di tengah tumpukan cicilan, tekanan kerja, dan drama kehidupan, kita sering lupa rasanya punya imajinasi liar, seperti percaya kalau di dalam radio ada orang kerdil yang lagi konser atau merasa dunia ini adalah taman bermain raksasa tanpa batas. Nah, sensasi “ajaib” itulah yang coba dikembalikan oleh Visinema Studios lewat film terbaru mereka, Na Willa, yang siap tayang 18 Maret 2026.
Sebagai penikmat film, saya merasa kehadiran Na Willa di jadwal rilis Lebaran tahun ini seperti segelas es sirup di tengah padang pasir. Segar, manis, dan bikin lega. Setelah sukses memeluk jutaan penonton lewat JUMBO tahun lalu, trio maut Ryan Adriandhy (Sutradara/Penulis) bersama produser Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari kembali lagi dengan formula yang lebih hangat. Menariknya, ini adalah debut Ryan menyutradarai film live action. Sebagai pengagum karya animasinya, saya sempat bertanya-tanya: Bisa nggak ya Ryan memindahkan “magic” dan sensitivitas estetikanya ke dunia nyata dengan aktor manusia? Jawabannya singkat: Gila, ini keren banget!
Mesin Waktu ke Indonesia Era 60-an yang “Aesthetic”
Na Willa bukan sekadar film anak-anak biasa yang numpang lewat untuk mengisi liburan. Diadaptasi dari seri novel populer karya Reda Gaudiamo, film ini adalah sebuah “surat cinta” untuk masa kecil. Kita diajak melakukan perjalanan waktu ke Indonesia tahun 1960-an. Tapi tenang, ini bukan film sejarah yang kaku. Ryan Adriandhy menyulap latar era 60-an menjadi dunia yang sangat sinematik, penuh warna, dan terasa sangat hidup.
Kita akan dibawa menyusuri gang-gang sempit yang bersih, pasar tradisional yang riuh namun hangat, hingga lapangan luas tempat Geng Krembangan bermain layangan dan kelereng. Visualnya? Magical! Ryan berhasil menghidupkan dunia dari kacamata seorang bocah bernama Na Willa. Hal-hal sepele yang sering dianggap angin lalu oleh orang dewasa; seperti bentuk awan atau suara gesekan sandal di film ini berubah jadi petualangan sensorik yang luar biasa. Ada rasa penasaran yang murni, ada ketulusan persahabatan, dan ada imajinasi liar tentang ikan bandeng bermata banyak yang bakal bikin kamu tersenyum simpul sekaligus merasa nyesek karena kangen masa kecil.
Akting Luisa Adreena: “The Next Big Thing” Perfilman Kita
Salah satu highlight utama yang bikin saya betah duduk di bioskop adalah performa Luisa Adreena sebagai Na Willa. Jujur, mencari aktor anak yang bisa tampil natural tanpa terasa “dibuat-buat” atau terlalu teatrikal itu tantangan besar di industri kita. Tapi Luisa? Dia melakukannya dengan sangat organik. Ekspresinya, cara dia bertanya tentang dunia, hingga gestur tubuhnya bener-bener mencerminkan sosok Na Willa yang cerdas, kritis, tapi tetap polos.
Luisa didukung oleh jajaran cast yang sangat solid dan beragam. Visinema menunjukkan komitmennya dalam regenerasi talenta dengan menggandeng wajah-wajah baru seperti Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, dan Arsenio Rafisqy. Namun, kehadiran aktor senior seperti Ira Wibowo, Junior Liem, Melissa Karim, Putri Ayudya, hingga aktris legendaris Ratna Riantiarno memberikan “bobot” emosional yang pas. Mereka bukan cuma jadi pelengkap, tapi menjadi representasi dari orang-orang dewasa di sekitar kita yang terkadang lupa caranya bermain. Kehadiran mereka menjadikan film ini ruang pertemuan antar generasi yang sempurna.
Kenapa Film Ini Sangat Layak Kamu Tonton?
Ada beberapa alasan kuat mengapa Na Willa harus berada di urutan pertama daftar nonton kamu bareng keluarga Lebaran nanti:
1. Vibes yang Hangat, Fun, dan Benar-benar Bahagia
Di saat film Lebaran lain menawarkan ketegangan horor atau konflik warisan yang bikin pusing, Na Willa menawarkan pelukan. Ini adalah film “Safe Place”. Kamu bisa masuk bioskop dengan beban pikiran, dan keluar dengan perasaan ringan. Film ini tidak mencoba menggurui, tapi mengajak kita untuk merayakan setiap momen kecil dalam hidup.
2. Soundtrack yang “Earworm” dan Ceria
Kolaborasi kembali dengan trio produser musik laleilmanino lewat lagu Sikilku Iso Muni bener-bener jadi nyawa tambahan. Musiknya ceria, liriknya lucu, dan aransemennya bikin kaki pengen ikut ngetuk lantai bioskop. Musik dalam film ini bukan cuma sekadar latar, tapi bagian dari bahasa imajinasi Na Willa yang penuh warna.
3. Pesan Mendalam untuk “Inner Child” Orang Dewasa
Seperti kata Reda Gaudiamo, film ini adalah pengingat keras buat para orang tua agar mau berhenti sejenak dan “mendengar” suara anak-anak mereka. Seringkali kita sebagai orang dewasa terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri sampai lupa kalau anak-anak punya dunia yang jauh lebih ajaib. Film ini mengajak kita merawat semangat “anak kecil” di dalam diri kita yang mungkin sudah lama padam karena tuntutan hidup. Menonton Na Willa rasanya seperti memberi makan inner child kita yang lapar akan kebahagiaan sederhana.
Verdict: Mahakarya Keluarga yang Sangat Lokal, Namun Universal
Sebagai reviewer, kami berani bilang kalau Na Willa adalah satu-satunya film Lebaran yang benar-benar berani merayakan kebahagiaan murni. Visinema Studios tampaknya sedang membangun sebuah Intellectual Property* (IP) lokal yang sangat kuat dan berkelanjutan. Kita butuh lebih banyak cerita seperti ini: cerita yang ramah anak, punya nilai estetika tinggi, dan memiliki makna yang membekas lama setelah lampu bioskop dinyalakan.
Film ini membuktikan bahwa Ryan Adriandhy bukan cuma jago di dunia animasi, tapi dia adalah seorang storyteller ulung yang tahu betul cara menyentuh hati manusia lewat media apapun. Na Willa adalah tontonan wajib. Titik.
Gimana menurut kalian?
Kangen nggak sih sama film keluarga yang murni bikin happy tanpa ada adegan yang bikin trauma atau sedih berlebihan? Terus, apa sih memori paling “ajaib” atau teori aneh masa kecil kalian yang masih kalian ingat sampai sekarang? Penasaran sama orang di dalem radio juga, atau punya teori sendiri tentang kenapa bulan selalu ngikutin kita kalau lagi jalan malam?
Yuk, kita diskusi di kolom komentar! Jangan lupa tag pasangan, saudara, atau teman geng kalian buat janjian nonton Na Willa mulai 18 Maret nanti. Mari kita rayakan Lebaran dengan pulang menjadi anak-anak bareng-bareng!
Sampai ketemu di bioskop, jangan lupa bawa imajinasi kalian, ya!





